Tatapan Bai Wujian membeku, tubuhnya kaku seolah membatu. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Mo Hanyi, wanita yang kejam dan banyak tipu daya, roboh hanya dengan satu pukulan dari sosok pria yang ada di depannya. Darah mengalir dari sudut bibir Mo Hanyi, napasnya tersengal, lalu hening. Suasana di sekeliling hening tanpa ada satupun yang berbicara.

"Apa dia... immortal tingkat akhir?" gumam Bai Wujian dalam hati, matanya melebar. "Itu sebabnya Feng Qiren juga bisa mereka taklukkan begitu cepat... Aku tak akan mampu menghadapi orang ini. Tidak dengan kekuatanku sekarang."

Tubuhnya bergetar tanpa bisa dikendalikan. Di belakangnya, kedelapan grandmaster berdiri kaku seperti patung. Wajah mereka sepucat mayat, keringat menetes dari dagu, tubuh bergetar hebat menyaksikan kenyataan dua tetua mereka di ranah immortal tumbang seolah tak punya daya. Di hadapan mereka, berdiri ratusan pasukan keluarga Baihuan dengan formasi sempurna. Tenang, teratur, seperti binatang buas yang siap menerkam kapan saja. Awalnya mereka berpikir misi ini akan mudah dengan tiga immortal bersama mereka, namun dalam sekejap semua berubah. Kini mereka mencemaskan nasib mereka.

Tanpa berkata-kata, Bai Wujian mengeluarkan tiga buah pil hitam pekat dan menelannya sekaligus. Urat-uratnya membengkak, napasnya terengah, dan tubuhnya sedikit bergetar menahan reaksi obat.

"Tak ada pilihan lain," batinnya sambil mengatup rahang.

"Tiga pil sekaligus... ranahku akan jatuh setelah ini, mungkin bahkan tak akan pernah bisa kembali. Tapi lebih baik kehilangan kekuatan... daripada kehilangan nyawa."

Ia menoleh ke arah Mo Hanyi. Harapannya pupus saat melihat tubuh wanita itu tergeletak lemah, napasnya terputus-putus. Feng Qiren pun sama, tubuhnya bersimbah darah dan aura hidupnya nyaris tak terasa. Harapan satu-satunya kini tinggal pada dirinya sendiri.

Dalam hitungan detik, aura Bai Wujian melonjak tajam. Angin berputar hebat di sekitarnya, batu-batu kecil terangkat, bangunan di sekitar bergetar hebat seperti akan runtuh. Aura itu meledak, mendesak sekeliling dengan kekuatan luar biasa, mendorong mundur beberapa pasukan Baihuan. Ia telah menembus batas kekuatan, mencapai ranah immortal tingkat akhir dengan dorongan kekuatan yang tidak wajar.

Namun para penjaga keluarga Baihuan tetap berdiri teguh. Meski tekanan itu mengguncang tulang mereka, mata mereka tidak gentar. Mereka percaya, sosok yang berdiri di depan mereka, pemimpin mereka saat ini, adalah kekuatan sejati yang tak bisa diukur dengan kekuatan biasa.

Dua tahun yang lalu, sebuah peristiwa tak terduga mengguncang keluarga Baihuan. Seorang pemuda datang dari dunia luar memasuki lokasi rahasia tanpa kekuatan spiritual sedikit pun. Tubuhnya lemah, namun ia membawa sebuah benda misterius berbentuk bulat kristal hitam. Artefak itu memancarkan aura aneh dan diketahui sebagai artefak ingatan, tempat di mana jiwa seseorang dapat disegel untuk waktu yang sangat lama.

Artefak ini sendiri sudah sempat berubah bentuk seperti batu karena mulai kehabisan energi spiritual setelah ratusan tahun berlalu di pulau. Namun saat pemuda tersebut menyusup, ikut masuk, menyeberang melewati ruang dimensi yang dibuat Lynx, dan muncul di dunia kultivasi, artefak tersebut seolah hidup, menyerap energi spiritual di sekitarnya dan kembali ke bentuk aslinya. Setelah energinya cukup, sosok jiwa keluar dan membimbing pemuda tersebut menuju ke suatu tempat. Jiwa itu adalah bagian lain yang diletakkan oleh pemilik aslinya dengan formasi terlarang untuk memastikan kebangkitannya tidak ada yang menghalangi. Dan sesuai yang dia takutkan, salah satu jiwanya yang sudah dibangkitkan dikalahkan oleh pemuda bernama Lynx, dan akhirnya terbunuh oleh naga besar.

Awalnya keluarga Baihuan menangkap dan hendak membunuh pemuda asing tersebut karena menganggapnya mata-mata. Namun pemuda itu mengaku semua anggotanya menerima tugas turun-temurun dari leluhurnya. Jika mereka gagal membangkitkan leluhur mereka yang bernama Monrest, tapi berhasil kembali ke dunia kultivasi, maka mereka harus menyerahkan artefak tersebut pada keluarga Baihuan. Tak satu pun dari mereka awalnya percaya karena tidak mengenal nama Monrest, hingga pemuda itu menyebut nama aslinya, Mao Ren.

Nama itu membekukan ruangan. Mao Ren adalah nama salah satu leluhur terkuat keluarga Baihuan yang hilang dalam peristiwa besar ratusan tahun lalu. Dia ikut lenyap bersama para immortal lainnya ke dimensi lain saat batu meteor besar akan menghancurkan dunia mereka. Ketika nama itu disebut, suasana berubah drastis.

Kepala keluarga segera mengambil artefak tersebut dan memeriksanya. Tidak lama, jiwa Monrest keluar dan berkomunikasi dengan kepala keluarga Baihuan. Para tetua merasa gembira mendengar berita dari kepala keluarga dan mereka segera mempersiapkan ritual. Mereka yakin, dengan kebangkitan leluhur mereka, maka mereka tidak perlu lagi bersembunyi dari dunia luar seperti saat ini.

Dalam waktu singkat, mereka mengumpulkan ratusan kultivator muda dari berbagai penjuru dunia dengan cara menipu mereka. Mereka menyamar menjadi beberapa sekte besar dan melakukan perekrutan. Saat para korban merasa gembira diterima, mereka tidak mengetahui jika mereka hanya dijadikan bahan pengorbanan untuk membangkitkan pecahan jiwa yang tersegel dalam artefak. Tidak seperti di pulau yang butuh darah khusus akibat tidak adanya energi spiritual, di dunia kultivasi cukup dengan kekuatan formasi dan energi spiritual. Kebangkitan dilakukan tanpa hambatan besar, terutama kebangkitan ini disebabkan oleh teknik khusus yang hanya dimiliki oleh Monrest.

Malam itu, langit di atas keluarga Baihuan bergetar. Petir menyambar tanpa suara, dan dari pusaran gelap di langit, sosok pria tua bermata tajam dengan rambut perak panjang perlahan turun ke tanah. Dia mengenakan jubah hitam bercorak merah tua, tubuhnya membawa aura kematian yang nyaris tidak bisa ditahan.

Dia adalah Mao Ren, namun dia menyukai panggilan barunya, Monrest.

Tawa pertamanya menggema panjang. Ingatan dari masa lalunya bergabung dengan tubuh barunya. Kenangan saat dia dibangkitkan di pulau asing, ia bangkit dengan kekuatan yang sangat rendah karena tidak adanya energi spiritual, perlu banyak pengorbanan untuk meningkatkan kekuatannya. Tapi sekarang, tubuh ini dibuat khusus dengan kekuatan spiritual murni dan diperkuat dengan esensi para korban pengorbanan.

"Akhirnya... akhirnya aku kembali. Lynx... kau pikir aku mati di tangan naga itu? Kau hanya membunuh tubuh kasar dari salah satu jiwaku. Kamu pasti tidak akan menduga jika aku masih bisa bangkit lagi. Dan kini... aku telah kembali!"

Monrest menatap pasukan di hadapannya dan berkata dengan penuh kebanggaan, "Dengan kekuatanku saat ini, aku sudah jauh melampaui immortal biasa. Dan bukan itu saja, aku telah mendapatkan satu fragmen dari senjata iblis dan menyatu. Di dunia ini, hanya aku yang berjodoh bisa menggunakan kekuatan itu... Setelah aku mendapatkan keempat sisanya, pasti aku akan membuat perhitungan denganmu."

Kekuatan Monrest menyatu sempurna dengan fragmen itu, kekuatannya menembus batas makhluk fana. Aura senjata iblis itu melebur ke dalam tubuhnya, membentuk energi kegelapan yang jauh melebihi energi spiritual yang ada. Dan dengan kekuatan itu... ia bertekad membalas dendam pada Lynx.

Kini, melihat kekuatan immortal tahap akhir yang meningkat drastis karena konsumsi obat iblis hanya membuatnya tertawa.

"Majulah. Aku ingin tahu, seberapa kuat semut sepertimu mampu bertahan dari seranganku," tawa Monrest dengan keras diikuti oleh seluruh anak buahnya.

"Sombong. Kamu akan merasakan kekuatanku. Aku akan menghancurkan kalian semua dalam satu serangan," teriak Bai Wujian dengan nada marah. Tubuhnya melayang dengan memancarkan aura immortal tahap akhir. Langit seolah akan runtuh, dunia menjadi gelap, petir bersahut-sahutan di langit.

Para kultivator keluarga Baihuan segera membuat pelindung untuk melindungi warga dari tekanan Bai Wujian.

"Dark Azure Dragon Ascension."

Dari energi spiritual yang dikeluarkannya, terbentuklah seekor naga raksasa berwarna biru kehitaman terwujud, seolah melilit langit dan bumi. Ia mengamuk dan bersiap mencabik semua prajurit dan menyerap esensi spiritual musuh.

Namun bukannya melindungi diri atau melakukan perlawanan, Monrest justru tertawa. "Hebat... hebat, jurus yang hebat. Ayo kemarilah, serang aku," katanya dengan sikap santai.

Para prajurit dan seluruh anggota keluarga Baihuan merasa cemas. Mereka khawatir leluhur Monrest tidak mampu menghadapi serangan sekuat itu.

"Matilah kalian!" teriak Bai Wujian.

Dengan cepat, naga raksasa tersebut meluncur ke arah Monrest dengan kecepatan tinggi. Dapat diperkirakan, Monrest akan terluka parah bahkan tewas dengan serangan tersebut. Namun tiba-tiba, naga tersebut terhenti sebelum sampai sasaran. Tubuhnya dikelilingi aura hitam ungu seolah melilit tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" kata Bai Wujian dengan tatapan tidak percaya.

Naga spiritual yang dikeluarkannya tiba-tiba bergerak seolah tertarik oleh rantai iblis dan terserap masuk ke dalam tubuh Monrest, lalu menghilang.

"Kekuatan yang luar biasa. Aku mengucapkan terima kasih karena kamu memberiku kekuatan tambahan," kata Monrest menyeringai. "Sekarang giliranku."

